Galau… Ungkapan ini sangat popular. Belakangan, muncul pula istilah ambyar. Konotasi keduanya mirip. Isinya adalah percampuran antara sedih, marah, putus harapan dan berbagai suasana negatif lainnya.

Nabi Ya’kub pernah galau ketika tiga putranya hilang. Yusuf kecil dikabarkan mati dimakan serigala. Begitu kebohongan yang direkayasa oleh saudara2nya yang dengan tega menjeburkannya ke dalam sumur.

 Bunyamin tidak pulang karena dikriminalkan sebagai pencuri saat pergi ke Mesir bersama saudara2nya. Karena Bunyamin tidak bisa pulang, satu orang anaknya bertekad tidak mau pulang ke rumah. Itu dia lakukan untuk memenuhi janji pada ayahnya. Sebelum berangkat, mereka berjanji menjaga Bunyamin dan akan membawanya pulang.

Dalam surat Yusuf 48 dikisahkan, Nabi Ya’kub galau. Dua rasa yang mendera. Kesedihan (حزن) dan kemarahan (كظيم). Dia sedih atas apa yang menimpa ketiga anaknya. Dia marah kepada anak-anaknya yang lain, hingga dia tak mau melihat anak-anaknya. Namun kemarahan itu dia tahan kuat-kuat. Apa yang terjadi? Galau hebat itu merembet ke fisiknya. Warna hitam di matanya memudar karena tangis yang lama. Nabi Ya’kub buta.

Mengapa dunia ruwet ? Mengapa setiap nikmat disertai dengan derita ? Mengapa sejuknya pagi berganti dengan teriknya siang?

Sebab, sifat hakiki dunia adalah keruwetan. Semua yang ada di dunia bersifat keruh. Tidak ada yg murni. Sebagus apa pun sebuah rumah, pasti ada WCnya. Sebaik apa pun orang yang Anda cintai, pasti ada kurangnya. Bahkan ketika anda berpindah dari satu posisi kepada posisi lain, sesungguhnya hanya berpindah dari keruwetan satu menuju keruwetan yang lain. Saat anda berpindah dari buruh menjadi juragan, bawahan menjadi atasan, lajang menjadi berkeluarga, miskin menjadi kaya, sebenarnya anda berpindah satu masalah satu ke masalah lain.

Mengapa demikian? Sebab dunia adalah tempat ujian dan beban (taklif). Tugas manusia adalah melaksanakan penghambaan kepada Allah. Dia bebas berbuat, antara taat atau maksiat. Andai dunia dipenuhi kenikmatan dan kesempurnaan, bagaimana mungkin ujian akan berlangsung? ‘Ubudiyah adalah beban (taklif). Tidaklah sesuatu disebut taklif jika tanpa kesulitan (masyaqqat).

Andai manusia selalu sehat, muda, selamat, damai, adil, dan penuh kenikmatan, apa yang terjadi? Mungkin, manusia tidak akan merasa perlu bersandar kepada Tuhan. Dia tidak akan berdoa. Sebab doa lahir dari kebutuhan atau berlindung dari sesuatu yang menakutkan. Dari sini, inti ujian manusia adalah sabar dan syukur. Materi ujian sabar adalah musibah dan penderitaan. Materi ujian syukur adalah kenikmatan.

Kapan akan ujian akan berakhir? Saat kematian datang. Itulah pintu untuk memasuki alam pembalasan. Saat itulah, seorang mukmin yang hidupnya terus dalam ujian akan berpindah dari beratnya ujian dunia menuju kenikmatan. Bayangkan…. Jika dunia ini penuh nikmat, semakin bertambah usia, semakin manusia bergantung kepada dunia. Dia semakin enggan berpisah. Sungguh sebuah nikmat besar ketika Allah menjadikan nikmat dunia ini sebatas untuk memenuhi kebutuhan agar kita bisa melaksanakan penghambaan. Maka, ruwetnya dunia justru mempersiapkan kita agar saat berpisah dari dunia tidak dalam kondisi mabuk dunia tapi bosan dengan keruwetan dunia.

Lalu untuk apa bersedih dengan kenyataan? Hadapilah setiap kenyataan sebagai sebuah ujian, jawabnya dengan dua kemungkinan, sabar atau bersyukur. Dengan begitu insyallah, Anda sukses sebagai pemenang.

Penulis: Imam Khoiri – Direktur Litbang LPI Salsabila Yayasan SPA Indonesia

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *