Bahagia adalah kata yang sangat menyihir manusia. Jiwa merindukannya. Akal memimpikannya. Raga mengejarnya. Tapi betapa sering kebahagiaan itu lari saat dikejar, menghilang saat dihadang, sirna saat dicari. Dalam pandangan orang yang tak merasa bahagia, orang lain tampak ceria. Rumput tetangga terlihat lebih indah dan hijau.

Jika bahagia menjadi tujuan, seringkali kita luput menikmati setiap langkah perjalanan. Jika bahagia menjadi cita-cita, seringkali kita gagal merasa. Jika bahagia menjadi orientasi terbesar dalam hidup, ia akan pupus setelah kematian.

Bahagia adalah kata yang tidak mewakili semua sisi kebaikan. Sebab itu, ketika seorang bayi lahir, yang kita lantunkan adalah doa keberkahan.

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي المَوهُوبِ لَكَ , وَشَكَرْتَ الوَاهِبَ , وَبَلَغَ أَشُدَّهُ , وَرُزِقْتَ بِرَّهُ

“Semoga Allah memberkahi anak yang dianugerahkan kepadamu, semoga kamu bisa mensyukuri Sang Pemberi (Allah), semoga besar dan dewasa, dan engkau mendapatkan baktinya.

Ketika anak sudah dewasa dan melangsungkan pernikahan, kita doakan keberkahan.

 “بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي الْخَيْرِ”.

Dalam doa ini terkandung dua ungkapan. Barakallah Lakuma; semoga berkah saat bahagia. Wabaraka ‘alaikuma, semoga berkah saat kesusahan.

Doa keberkahan juga doa yang selalu kita mintakan untuk saudara-saudara kita. Saat kita bertemu seorang teman, kita mengucakan salam. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Berkah adalah permohonan ketiga setelah keselamatan dan rahmat.

Bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa, Allah juga janjikan curahan keberkahan.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi….” (QS: Al-A’raf [7]: 96).

Hidup bukan soal nikmat atau musibah, tapi syukur dan sabar. Bukan kaya atau miskin, tapi kedermawanan dan kehalalan. Bukan sempit atau lapang, tapi zuhud dan wara’. Bukan sehat atau sakit, tapi manfaat dan keridhaan batin. Bukan tinggi dan rendahnya kedudukan, tapi tawadhu’ dan kebersihan jiwanya. Bukan kuat atau lemah, tapi adab dan akhlaknya. Bukan kedudukan dan posisi, tapi kontribusi dan jihadnya. Bukan besar atau kecilnya, tapi ikhlas dan tawakkalnya.

Umur adalah ketetapan. Cara mengisinya adalah ujian; apakah akan diisi dengan ketaatan atau kemaksiatan. Rizki adalah ketetapan. Cara menjemputnya adalah ujian, apakah akhirnya mendatangkan keberkahan atau laknat. Pangkat dan kedudukan adalah ketetapan. Cara menggunakannya adalah ujian, akankah berakhir berkah atau musibah.

Maka, lihatlah setiap kenyataan dalam perspektif keberkahan. Jangan terjebak pada angka, nominal dan penampilan. Insyallah kita akan mendapatkan kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan.

Penulis: Imam Khoiri – Direktur Litbang LPI Salsabila Yayasan SPA Indonesia

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *