STPI BIM

Pesan-pesan Perjuangan

Islami, Militansi, Penguat Jiwa, Profesional

Tahun 2023 ini, SPA Indonesia telah berusia 38 tahun, terhitung dari 3 November 1985, awal kisah perjuangan itu dimulai. Setelah 38 tahun berjalan, SPA telah melalui fase perjalanan yang berliku-liku. Berawal dari sebuah perkumpulan dengan anggota kelompok pengajian anak-anak, lalu berkembang menjadi pribadi-pribadi sebagai aktivis hingga berubah menjadi yayasan. Semula SPA fokus pada pengembangan peran lembaga pendidikan non-formal. Kala itu, lembaga pendidikan formal sebagai mitra dalam perjuangan dakwah. Akhirnya SPA mengembangkan lembaga pendidikan formal, baik berbentuk kemitraan maupun dikelola secara mandiri. Dengan segala lika-liku dan tantangannya masing-masing, SPA selalu berusaha cerdas menyongsong dan melihat tanda-tanda zaman, cerdas melayani, istiqamah dalam berjuang dan berupaya selalu memberi makna dalam setiap kehadirannya.

SPA Indonesia adalah kisah sejarah yang menyatukan antara daya juang, kenekadan, keberanian, keterbatasan, keterhimpitan, air mata, kepasrahan dan doa. Di sela-sela itu, Allah bukakan pintu-pintu keajaiban. Di sudut-sudut kebuntuan, Allah turunkan celah-celah solusi yang kadang tak terduga jalan datangnya. Dalam keterbatasan rizki, Allah turunkan keberkahan. Dalam kepadatan waktu, Allah anugerahkan produktifitas dan kemanfaatan. Dalam keterbatasan sarana, Allah berikan kekuatan tekad, jiwa, fisik dan keceriaan.

Edisi penguat jiwa kali ini, secara khusus berisi pesan-pesan ketua Pembina, KH Dr Khoirudin Bashori, yang disampaikan pada acara Milad SPA Indonesia, yang dilaksanakan secara sederhana di Kampus STPI Bina Insan Mulia, pada 11 November 2023. Izinkan saya menulis pesan-pesan yang beliau sampaikan untuk kita semua, para pejuang dakwah SPA Indonesia. Tentu saja tulisan ini sebatas kemampuan dan persepsi saya, sekaligus saya tambahkan beberapa informasi lain yang relevan. Berikut pesan-pesan ketua Pembina.

* * *

Pertama, CINTA. sesuai namanya, Silaturahim Pecinta Anak (SPA) Indonesia, seluruh aktifitas kita di SPA sepatutna dilakukan atas dasar CINTA. Karena cinta kita mempunyai kekuatan berlipat, sanggup menghadapi rintangan, dan sabar menanggung beban. “Laut kan kuseberangi, gunung kan kudaki”, adalah kekuatan tekad yang hanya dimiliki para pecinta. Yang berat akan terasa ringan, yang sulit terasa gampang, yang mustahil menjadi mungkin. Itu semua karena cinta. Sebab itu, rasa cinta dengan anak-anak, rasa cinta untuk selalu berkontribusi, rasa cinta untuk mengayun kebersamaan, rasa cinta pada Islam, akan membuat kita mampu terus berjuang. Tentu muara akhirnya adalah cinta kepada Allah dan RasulNya. CINTA harus menjadi ruh yang menggelora dalam dada setiap pejuang SPA Indonesia.

Kedua, IHSAN. Dalam QS. Al-Baqarah 112, Allah menyebut dua syarat untuk mendapatkan pahala dan kemuliaan.

بَلٰى مَنۡ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya: Barangsiapa berserah diri sepenuhnya kepada Allah (lillah), dan dia berbuat ihsan, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut dan tidak pula bersedih hati (bahagia dan tidak mudah baper).

Syarat pertama, ikhlas karena Allah. Syarat kedua, IHSAN. Pertanyaan yang harus dijawab oleh masing-masing kita, apakah yang selama ini kita lakukan sudah yang terbaik dari peran kita masing-masing? Kita perlu otokritik, apakah di posisi masing-masing kita sudah melakukan yang terbaik? Dalam konteks kelembagaan, setiap Lembaga di SPA Indonesia harus peka dan menyadari bahwa seiring perubahan tantangan yang kita hadapi, kita perlu menyesuaikan tata kelola lembaga. Dalam konteks Ihsan, kita perlu terus mendefinisikan keunggulan komparatif. Jika lembaga lain dulu berkembang pesat, leading diantara yang lain, bagaimana sekarang? Jika kita merasa baik-baik saja, sementara Lembaga lain yang dulu kecil terus melaju dan besar, berarti kita mengalami stagnasi atau bahkan kemunduran dalam nostalgia kejayaan masa silam. Ini yang harus diwaspadai.

Ketiga, INOVASI, tanpa henti. Setiap Lembaga menghadapi tantangan yang berbeda dari waktu ke waktu. Masyarakat kita juga terus berubah. Dulu, orang mau menyekolahkan anaknya ke Lembaga tertentu atas dasar ikatan ideologi atau identitas. Tapi sekarang tidak. Masyarakat sekarang selalu bertanya tentang fungsi dan manfaat. Jika menyekolahkan anaknya di Lembaga x, apa yang mereka dapatkan? Setelah lulus, kira-kira anaknya bisa melanjutkan kemana? Siswanya hafal berapa juz, punya kompetensi apa? Jika yang dijanjikan tidak sesuai, mereka akan bertanya. Terlebih jika sekolah semakin maju, segmentasi kelas ekonomi wali muridnya naik, cakupan area geografisnya meluas, seiring dengan kemajuan yang dicapai, tantangannya juga meningkat. Biaya SPP mungkin naik, tetapi pada saat yang sama, tuntutan wali siswa juga semakin tinggi. Komplain bertambah, masalah semakin banyak. Sebab itu, selalu dibutuhkan inovasi-inovasi baru.

Keempat, TATA KELOLA BARU. Ini ita butuhkan untuk menghadapi tantangan dan kondisi baru. Pengalaman keberhasilan di masa lalu, tidak cukup untuk mengadapi perubahan yang terus melaju. Kita harus meng-update tata cara pengelolaan, baik pengelolaan siswa, wali murid, guru, mitra-mitra lembaga, keuangan dan lain sebagainya. Dalam menyikapi dinamika-dinamika baru, perlu AGILITAS, KELENTURAN, FLEKSIBILITAS. Masalah-masalah baru, tidak bisa diselesaikan dengan sikap yang kaku.

Kelima, MENJAGA NILAI-NILAI KEJUANGAN. Nasehat KH Sunardi Sahuri (alm) relevan untuk kita renungkan, “Dik, berjuang kuwi ojo setengah-setengah. Do dadio pejuang sing mutu… Tegese…, ojo mutungan, ojo gampang nyerah… Sing kuwat, sing kendhel , sing tenanan… Ojo medhit, kudu wani cucul lan tombok… Ora golek alem, ora gampang nglarani atine konco… Bedo pendapat ki biasa, ning ojo musuhan…” (Terjemahan bebasnya: “Dik, berjuang itu jangan setengah-setengah. Jadilah pejuang yang bermutu… Artinya…, jangan mudah kecewa, jangan mudah menyerah, … Harus kuat, pemberani, bersungguh-sungguh… Jangan pelit, harus berani berkorban… Jangan mencari pujian, jangan mudah menyakiti hati teman… Berbeda pendapat itu biasa, tapi jangan bermusuhan…”).

Keenam, FAIRNES, TRANSPARANSI, AKUNTABILITAS. Ini tiga prinsip pokok untuk terwujudnya good school governanvce. Tuntutan ini tak terelakkan. Ketika tidak ada transparansi, pasti akan muncul suasana tidak nyaman. Sebagian merasa dizalimi karena merasa memperoleh lebih sedikit dari yang seharusnya, dan menuduh orang lain berbuatsemena-mena. Ketika tidak ada fairness, maka ngrumpi, kasak-kusuk akan membudaya. Sebaliknya, ketika terwujud keadilan dan jaminan akuntabilitas, semua akan merasa nyaman. Terlebih jika akuntabilitas itu bisa diakses secara mudah bahkan real time.

Ketujuh, MENYELESAIKAN MASALAH BUKAN MERASAKAN MASALAH, sebab masalah itu ada untuk diselesaikan, bukan untuk dirasakan. Kadang ada rasa tidak enak ketika hendak melaksanakan satu kebijakan. Mungkin karena alasan pertemanan, senioritas, usia dan lainnya. Namun ketika lembaga menuntut kebijakan yang tegas, sikap LUGAS itu perlu dengan mengabaikan soal rasa sungkan dan tidak enak hati.

Kedelapan, BERTEMU DAN SALING DISKUSI. Organisasi yang berjalan baik dicirikan dengan RAPAT YANG TERTIB, baik daring atau pun luring. Kalau ada masalah, segera diselesaikan. Masalah dipetakan satu demi satu, lalu diselesaikan tahap demi tahap.

Kesembilan, SINERGI ANTARA AGAMA, LEMBAGA DAN NEGARA. Berkaca pada kasus yang terjadi di Lembaga lain, semua guru dan keluarga besar SPA Indonesia agar berhati-hati, jangan sampai terlibat aliran keagamaan atau ideologi terlarang dan bermasalah baik dari kacamata negara maupun hukum agama. Karenanya, setiap Lembaga harus melakukan pembinaan keagamaan dan evaluasi secara berkala.

Tags :
Islami, Militansi, Penguat Jiwa, Profesional
Share This :

Recent Posts

Have Any Question?

Informasi lebih lanjut mengenai STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta bisa melalui media berikut: